Cerita Gigolo dan Istri Pejabat

Cerita Gigolo dan Istri Pejabat ini berupa pengalaman para gigolo melayani istri kesepian, istri muda hingga istri simpanan para pejabab. Selengkapnya, berikut adalah kisah atau ceritanya!
Kota Surabaya bukan hanya ‘surga’ bagi pria hidung belang. Perempuan bergaya hidup bebas juga mencari laki-laki macho. Perempuan-perempuan haus sentuhan pria perkasa ini adalah para pengusaha muda, istri muda, atau istri simpanan para pejabat Jakarta yang rela merogoh kocek Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta sekali kencan.

Tidak mengherankan jika komunitas pria pemuas nafsu seks yang biasa disebut gigolo makin menjamur. Selain Surabaya, perselingkuhan dengan wanita-wanita papan atas bermotifkan uang ini juga menjamur di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Medan, Semarang, dan Makassar. Bahkan, sudah terdapat di Malang, Kediri, dan Madiun.

Menurut penelusuran Warta Kota pekan lalu, gigolo berusia sekitar 20-25 tahun dan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terorganisasi dan gerakannya diatur germo atau biasa disebut GM, sementara kelompok kedua bergerak sendiri mencari targetnya.

Gigolo yang terorganisasi lebih rapi dan tertutup lantaran klien mereka adalah pengusaha wanita terkemuka yang dikenal masyarakat, istri-istri muda, dan istri simpanan pejabat yang sehari-hari diawasi pengawal pribadi.

Kelompok gigolo yang bergerak sendiri biasanya menawarkan diri secara terbuka lewat iklan-iklan di surat kabar. Mereka berusaha menarik perhatian konsumen dengan kalimat vulgar, misalnya: “Wahyu Massa, refleksi cakep dewasa panggilan hubungi 0813320xxxx”, atau “Jaka Massage, tampan BB face, ramah, macho, big & long servis all in khss panggilan hub 081654xxxxx”.

“Pelaku (gigolo) yang menawarkan diri lewat iklan bisa ditebak konsumennya adalah wanita-wanita kelas ekonomi menengah atas. Dan usianya pasti di atas 50 tahun, ya istilah untuk mereka yang terlambat menopause,” cetus Indra, mantan gigolo yang kini menggeluti dunia entertainment di Surabaya.

Meski jaringan gigolo sangat tertutup, tidak jarang mereka nongkrong di satu tempat untuk ‘tebar pesona’. Para gigolo biasanya memanfaatkan pusat-pusat keramaian, seperti restoran cepat saji di plasa-plasa di pusat kota.”Tak jarang dari sekadar makan sambil ngobrol berjam-jam di tempat itu, kami dapat target, lalu berlanjut ke hotel,” ungkap Deddi, gigolo yang sehari-hari bekerja di sebuah restoran chinese food, sambil menyebut dua restoran cepat saji di kawasan Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Pemuda yang sering dipakai mangkal para gigolo.

Pejabat Jakarta

Meski kebanyakan konsumen gigolo adalah wanita dari luar kota, Deddi mengaku pernah melayani perempuan pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Pertemuan dengan wanita tengah baya itu terjadi di sebuah restoran cepat saji di sebuah mal.”Dia habis membeli baju di sebuah gerai di mal tersebut, lalu mampir makan sebelum pulang. Saat itulah kami bertatap mata dan saling berkenalan. Usianya sih hampir sama dengan ibu saya, tapi penampilannya sangat menarik dan tubuhnya masih terawat,” ungkap lelaki 23 tahun yang masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan ekonomi di perguruan tinggi negeri di Surabaya itu.

Pertemuan sekilas itu berlanjut. Setelah bertukar nomor ponsel, mereka sering telepon-teleponan layaknya dua insan yang tengah memadu kasih. “Menghadapi wanita seperti ini memang tak seperti cewek seusia saya, begitu suka langsung berlanjut. Mereka sangat hati-hati sebelum memutuskan mengajak kita ke hubungan yang lebih intim,” katanya.

Entah karena kurang puas atas pelayanan Deddi atau memang ingin menjaga privacy, Deddi kini tak pernah lagi ditelepon dan bertemu dengan perempuan itu. “Setelah sekali mengajak kencan di hotel mewah, saya masih sempat ketemu dan diajak jalan-jalan selang dua bulan kemudian. Tapi, itu sudah setahun lalu. Mungkin sekarang dia sudah mutasi atau malah pensiun, saya enggak tahu,” kata Deddi.

Sementara itu, pelanggan dari kalangan istri para pejabat, katanya, umumnya mereka adalah istri muda atau istri simpanan. “Kejadian yang terbanyak, pejabat Jakarta menyimpan istri muda mereka di Surabaya atau kota-kota besar lain di Jawa Timur. Istri-istri itu sering kesepian,” tambahnya.

Uang lelah yang diberikan para tante atau mbak-mbak genit ini bervariasi. Sebab, tidak setiap pertemuan di kamar hotel berakhir dengan hubungan intim. Jika hanya menemani ngobol, uang taksi (istilah untuk uang jasa bagi gigolo) yang mereka terima Rp 400.000 sampai Rp 600.000 sekali pertemuan.

Tapi, jika romantisme di kamar mewah, uang taksi meningkat menjadi Rp 1.500.000 hingga Rp 2.000.000. “Sebagai lelaki normal, melihat wajah cantik dan tubuh yang terawat sering terbersit enggak dibayar pun saya mau,” kata Deddi sambil tertawa.

Tapi, kepuasan memang tak bisa diukur dengan uang. Maka, wajar jika wanita-wanita kesepian itu tak mempersoalkan harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk melepas dahaga mereka.”Kalau mereka sudah cocok, tidak segan memenuhi semua keperluan sang lelaki idamannya,” kata Deddi.

Tidak obralan

Prostitusi yang melibatkan laki-laki pekerja seks komersial (PSK) di sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, diakui pengamat sosial Universitas Airlangga Bagong Suyanto, makin terbuka. Maraknya aktivitas gigolo, menurut Bagong, tidak lepas dari adanya anomali nilai-nilai di masyaraat. Apa yang dulu dinilai tabu, kini sudah dianggap biasa. “Masyarakat di kota besar kini cenderung tidak lagi peduli ketika tahu pria dan wanita bukan suami istri masuk hotel. Sejauh mereka tidak kenal, dianggap bukan urusan mereka. Dan ini jadi wilayah aman bagi orang-orang yang mau selingkuh,” tegasnya.

Hanya saja, perempuan yang menyewa gigolo masih dipandang tidak biasa di masyarakat. Mereka umumnya cenderung lebih permisif dan menilai biasa kaum pria ‘jajan’. Karena itu, kata Bagong, cara kerja gigolo terancang lebih rapi dan tertutup, tidak obralan.”Tante-tante atau mbak-mbak pencari kepuasan dari gigolo cenderung lebih hati-hati dalam menyampaikan keinginannya. Sebab, penyelewengan oleh perempuan mudah jadi sorotan masyarakat ketimbang pria,” kata Bagong yang banyak melakukan penelitian tentang masalah-sosial-kemasyarakatan.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Tante Girang. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s